3.10.2009

Menakar Kadar Cinta

“…Tanpa cinta, totalitas kepatuhan dan ketundukan sulit dan rumit untuk tertunaikan. Sebab, hanya dengan cintalah manusia purna menghamba. Man ahabba syaian fa huwa ‘abduhu.”

“… dulu ayahku pernah bilang, sudahlah Bonaga, kalau kau tak bisa bilang Aku cinta padamu, bilang saja I love you, Monita…”. Huk, perempuan yang mendengar ungkapan itu terbatuk, terperangah, tak pernah menduga hal demikian bakalan ia dengar. Seketika. Tiba-tiba. Keterpendaman rasa kasih seorang sahabat pria dekatnya sa’at itu terucap.

Romantis, itu target rekaan, hingga momen ‘pengungkapan rasa’ tersebut dapat dianggap kreatif bagi si perempuan atau bahkan kebanyakan orang, mampu mewujudkan pola dan kesan yang berbeda. Menggetarkan, sepadan dengan cinta itu sering dideskripsikan. Kreatif, sebagaimana dibutuhkan dalam banyak kasus percintaan.

Padahal, dasar teori adegan di atas cukup sederhana, di tengah seseorang sedang meminum sesuatu, terjadi peristiwa mengejutkan atau di luar dugaan maka reaksi si pendengar bisa dispekulasikan, yang mengalami keterkejutan akan ke-selak-an. Batuk, walau sesenggukan. Tentu, lebih jauh harapan mendasar dari adegan di atas agar jiwa si pendengar tergetar tersentuh, lalu esensi yang disampaikan semoga lebih membekas juga menggurat.

Entah, rekan pembaca pernah ingat atau malah memang belum berkesempatan menyaksikan adegan di atas. Jelasnya, tersebut adalah bagian dari adegan sebuah film nasiolisme oriented, garapan sutradara senior Dedy Mizwar, diluncurkan di pertengahan tahun 2007 menjelang Dirgahayu RI ke-62. “Nagabonar jadi 2″.

Satu film di atas hanya sebagai sebuah permisalan, tema nasionalisme seperti kurang sempurna jika tanpa disisipi kisah cinta sepasang kekasih. Ironis, energi aneh yang terkandung dalam cinta itu sampai-sampai menjadikan wajah perfilman Indonesia dewasa ini –secara umum- seperti ‘wajib’ bernuansakan percintaan. Seperti yang tertulis di paragraf awal, energi cinta seolah terus dan semakin memaksa nalar-nalar kreatifitas manusia untuk berpacu membuat kisah tentang dirinya, terbitlah novel asmara, lahirlah sinetron romansa, hingga ditayangkanlah film-film cinta. Cinta berlawan jenis, itu garis bawah penulis.

Saksikan, seorang bocah Sekolah Dasar, bukan sekedar bisa mencinta lewat rasa, tapi telah berani berjuang mengungkapkan, bahkan secara terang bersikap penuh ‘perhatian’ pada seorang om (lelaki dewasa) layaknya tingkah kaum dewasa. Itu dalam “I love U, Om.”. Ingat pula “Love is Cinta”, bagaimana seorang pemuda sanggup reinkarnasi ke tubuh seorang ‘Guy’, hanya karena dalam waktu tiga hari ia ingin menyelesaikan permasalahan cintanya, cinta yang belum sempat terungkap sa’at kematian lebih dulu menjemput.

Di sini, mungkin dapat saya cukupkan, cinta adalah satu entitas yang memiliki nilai universalitas tak terbatas bentuk, ruang dan waktu. Cinta bisa hidup di komplek-komplek rumah mewah, juga dapat tumbuh di rumah-rumah beralas tanah. Cinta bersemayam pada jiwa-jiwa penuh damai, tetapi Hitler merefleksikan cintanya pada kekejaman. Tak berbentuk, tak tersekat ruang, tak terbatas waktu, tapi entitas cinta menghasilkan nilai dan manifestasi yang berbeda dari satu tipikal ke yang lainnya.

Fandi, berhasil mendapatkan Sarah dengan menikahinya. Di medan pencarian ilmu ikhlas sebagai sarat pernikahan mereka, cinta Fandi justeru menghantarkan ia dan keluarganya kembali ke jalan kebahagian nikmat Iman dan Islam dalam “Kiamat Sudah Dekat”. Berbeda dengan “First Love”, seorang perempuan malah harus mengalami koma panjang sebelum menjemput kematian, koma yang diderita disebabkan masa hidupnya terpenjara dalam kesepian dan pengharapan hampa, hatinya tak terlalu kuat menahan cinta tak sampainya pada seorang pria yang diidamkan.

Ah, begitulah cinta, bahan kisah yang ‘kan selalu menghiasi perjalanan hidup manusia di dunia. Cinta, ekspresi naturalistik yang memang tercipta sebagai mahkota kesempurnaan penciptaan manusia. Khusus dan utamanya, berasa sayang dan kasih kepada lawan jenis. “Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia; dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga)” Ali Imron [3] : 14. Membunuh cinta, berarti membunuh kemanusiaan itu sendiri.

Cinta hanya butuh dibina dan arah, lalu pada siapa atau apa cinta itu mestinya kita prioritaskan?. Sebab cinta adalah penggerak, lantas dengan siapa atau apa kita seharusnya memulai segala gerak?. “Katakanlah: “Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluarga, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai lebih daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.” At-Taubah [9] : 24. Ayat inilah yang menurut DR. Nasih Ulwan, sebagai standarisasi-kualifikasi-normatif cinta sejati.

Jika dikait-eratkan dengan nilai relasi hamba (kita sebagai manusia) pada Tuhannya, saya memahami, tak ada nilai kesempurnaan sebuah ibadah tanpa cinta. Tanpa cinta, totalitas kepatuhan dan ketundukan sulit dan rumit untuk tertunaikan. Sebab, hanya dengan cintalah manusia dapat purna menghamba. Man ahabba syaian, fa huwa ‘abduhu. Terlebih, kala cinta tidak tersandarkan pada prioritasnya, sering kali manusia terhanyut oleh limbah busuk egoisme dan kepentingan nafsu pribadi.

Takaran cinta yang paling fundamental, adalah seberapa besar pengorbanan, kesungguhan dan ketelusun kita dalam menghamba, beribadah kepada Sang Penuh Maha dan memberi pengaruh pada kesadaran diri dalam menjalani hidup. Seringkali saya bertanya pada pribadi diri, sudah sebesar apakah cinta yang saya punya?! Tepatkah cinta itu telah tertempatkan pada haknya?! Silahkan, jika ini mau kita jawab bersama-sama, tapi tidak harus dengan mencontek ke kiri dan ke kanan, kita jawab oleh masing-masing diri saja. []
http://juangnandoa.blog.friendster.com

1 komentar:

Asad mengatakan...

Hi I am Saudi Gentelman Looking for Muslim indonesian girl for marrage please send me on khalod100@gmail.com
Mob +966504424641
Thanks in advance

Hi I am Saudi Gentelman Mencari Muslim Bahasa Indonesia girl perkawinan saya kirimkan pada khalod100@gmail.com
Mob +966504424641
Thanks in advance

Poskan Komentar